FINANSIALTODAY.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound signifikan pada penutupan perdagangan Kamis, setelah sempat tertekan oleh sentimen negatif dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks acuan tanah air melesat 1,81 persen ke posisi 6.521,75, sementara indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan ikut naik 1,35 persen ke level 641,07.
Penguatan ini terjadi di tengah membaiknya risk appetite investor yang mulai kembali melirik aset berisiko. Kondisi ini tercermin dari frekuensi perdagangan yang mencapai 2.954.000 kali transaksi dengan total nilai jual-beli saham menembus Rp 13,51 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 578 saham ditutup di zona hijau, sementara 103 saham melemah dan 282 saham stagnan.
Meredanya Kekhawatiran Risiko Domestik Jadi Katalis Utama
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai, penguatan IHSG pada hari ini terutama mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko stabilitas keamanan domestik. Pembukaan perdagangan yang relatif kondusif menjadi sinyal awal yang direspons positif oleh pelaku pasar.
"Penguatan IHSG hari ini terutama mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko domestik, setelah pembukaan perdagangan yang relatif kondusif," ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan, aksi beli atau net buy pada saham-saham berkapitalisasi besar turut menopang laju indeks. Investor menilai tekanan jual yang terjadi sebelumnya sudah cukup banyak ter-priced in, sehingga valuasi saham blue chip mulai menarik untuk diakumulasi.
Sektor Kesehatan dan Barang Konsumen Catat Kenaikan Tertinggi
Seluruh sektor industri pada penutupan perdagangan hari ini berhasil menguat. Sektor kesehatan menjadi pemimpin kenaikan dengan melesat 3,71 persen, disusul sektor barang konsumen non primer yang naik 3,69 persen, dan sektor industri yang menguat 3,59 persen.
Adapun saham-saham yang mencatatkan penguatan harga terbesar hari ini antara lain GRPH, BIKE, KETR, NICK, dan CBUT. Di sisi lain, sejumlah saham seperti RGAS, GRIA, JAST, WINE, dan WGSH menjadi pemberat dengan mencatatkan pelemahan harga paling dalam.
Sentimen Eksternal dan Pergerakan Rupiah Turut Menopang
Dari eksternal, sentimen regional yang lebih positif turut menjaga market sentiment. Stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mendukung penguatan indeks hari ini.
Meski demikian, Elandry menegaskan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya agresif dalam melakukan akumulasi. Investor masih tetap mencermati perkembangan situasi domestik, arah aliran dana asing atau foreign flow, serta sentimen global yang bisa berubah sewaktu-waktu.
"Jadi, penguatan hari ini lebih mencerminkan perbaikan risk appetite, tetapi tetap disertai pendekatan selektif," jelasnya.
Potensi Profit Taking Masih Terbuka, Investor Diminta Selektif
Dalam jangka pendek, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan apabila situasi domestik tetap kondusif dan tidak ada tekanan baru dari pasar global maupun pergerakan kurs rupiah. Namun, setelah kenaikan yang cukup cepat, peluang profit taking tetap terbuka.
Elandry mengingatkan investor untuk tidak mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi. Fokus sebaiknya diarahkan pada emiten dengan fundamental solid, likuiditas baik, serta katalis kinerja yang masih terjaga.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei melemah 0,14 persen, Hang Seng turun 0,34 persen, dan Strait Times melemah 0,66 persen. Sebaliknya, indeks Shanghai menguat 1,13 persen dan Kospi melesat 1,53 persen.
Investasi mengandung risiko.