Film 'Passing' dan Topeng Identitas yang Tak Hanya Soal Ras, Kisah Dua Perempuan Kulit Hitam di Amerika 1920-an

Film 'Passing' dan Topeng Identitas yang Tak Hanya Soal Ras, Kisah Dua Perempuan Kulit Hitam di Amerika 1920-an
Tessa Thompson dan Ruth Negga dalam film 'Passing' yang mengangkat kisah dua perempuan kulit hitam di Amerika pada 1920-an.

JAKARTA — Kisah "Passing" berpusat pada Irene Redfield (Tessa Thompson) dan Clare Kendry (Ruth Negga), dua perempuan berkulit terang yang dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun berpisah. Irene memilih hidup stabil sebagai bagian kelas menengah atas di Harlem, sementara Clare memutuskan untuk "lulus" sebagai perempuan kulit putih demi mendapatkan keamanan finansial dan hak istimewa sosial yang ditolak rasnya.

Keputusan Clare untuk menyembunyikan identitas rasnya dari suaminya yang rasis, John Bellew, menjadi pintu masuk bagi penonton untuk melihat bagaimana ras bisa menjadi sesuatu yang diperformansikan. Namun, kemunculan kembali Clare justru mengguncang dunia nyaman yang dibangun Irene dan memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara "hitam" dan "putih", "kaya" dan "miskin", bahkan "lurus" dan "queer".

Bukan Sekadar Soal Warna Kulit, Melainkan Kelas dan Gender

Rebecca Hall memperkuat kritik atas hierarki rasial Amerika melalui sinematografi hitam-putih yang mencolok. Estetika ini secara visual menegaskan kepalsuan kategori ras dan kebrutalan segregasi, sementara skor piano jazz minimalis karya Devonté Hynes menggambarkan kecemasan psikologis kedua tokoh utamanya.

Larsen melalui Clare juga membongkar stereotip "tragic mulatto" yang populer di abad ke-19. Keputusan Clare untuk berpindah identitas bukanlah keinginan menjadi putih, melainkan respons kalkulatif terhadap masyarakat di mana keputihan menyediakan akses menuju keamanan dan kekayaan.

Irene, di sisi lain, memilih hidup terbuka sebagai perempuan kulit hitam di Harlem dan menikah dengan seorang dokter. Meski bangga dengan identitasnya, ia sesekali juga "lulus" memasuki ruang khusus orang kulit putih, seperti menikmati es teh di hotel mewah. Detail ini menunjukkan bahwa passing tidak hanya soal ras, tetapi juga terhubung erat dengan kelas.

Kemunafikan di Dalam Rumah Tangga Irene

Kontradiksi Irene terlihat jelas dalam hubungannya dengan Zulena, pembantu rumah tangganya yang berkulit "mahoni". Dalam kajian Mary Wilson tahun 2013, posisi Irene disorot sebagai kemunafikan: ia mengutuk diskriminasi rasial namun tetap menempatkan perempuan kulit hitam lain dalam posisi subordinat di rumahnya sendiri.

Colorism membuat situasi ini semakin timpang. Zulena tidak memiliki kemampuan untuk "lulus" seperti Irene atau Clare karena warna kulitnya yang lebih gelap. Di sinilah terlihat bahwa hierarki rasial dan kelas tidak hanya terjadi antara komunitas kulit hitam dan putih, tetapi juga beroperasi di dalam komunitas kulit hitam itu sendiri.

Film ini menampilkan kontradiksi tersebut secara visual. Irene mengadopsi etiket kelas atas kulit putih saat berinteraksi dengan Zulena, secara efektif memerankan sosok nyonya rumah bergaya matriark kulit putih di rumahnya sendiri. Irene memiliki hak istimewa untuk berpindah identitas saat menguntungkan dirinya, sementara Zulena tidak punya pilihan itu sama sekali.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index