Bank Jakarta

Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko Berkelanjutan

Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko Berkelanjutan
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko Berkelanjutan

JAKARTA - Di tengah dinamika industri keuangan yang terus berubah, keberhasilan sebuah bank tidak lagi semata diukur dari besarnya ekspansi kredit atau lonjakan laba. 

Fondasi yang lebih mendasar justru terletak pada tata kelola yang kokoh dan manajemen risiko yang disiplin. Inilah pendekatan yang kini ditegaskan Bank Jakarta sebagai pijakan untuk memastikan pertumbuhan berjalan sehat sekaligus berkelanjutan.

Komitmen tersebut menjadi sorotan ketika manajemen menekankan pentingnya pengelolaan risiko terintegrasi dan penguatan sistem pengendalian internal. 

Langkah ini diposisikan bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas kinerja di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan teknologi yang cepat.

Penguatan Tata Kelola Jadi Fondasi Pertumbuhan

Bank Jakarta menetapkan pengelolaan risiko terintegrasi serta penguatan sistem pengendalian internal, sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas kinerja, sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai mengatakan, pertumbuhan perbankan masuk kategori sehat jika ditopang tata kelola yang kuat, serta penerapan manajemen risiko yang disiplin.

Dia bilang, hal itu, menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memastikan setiap keputusan bisnis tetap berada dalam koridor prinsip kehati-hatian.

“Pertumbuhan (perbankan) yang sehat, ditopang tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin dan akuntabel. Penguatan budaya sadar risiko di seluruh lini menjadi bagian penting guna memastikan setiap langkah strategis perusahaan, tetap berada di prinsip kehati-hatian dan regulasi yang berlaku,” ujar Ateng di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan perusahaan tidak hanya berfokus pada ekspansi, tetapi juga pada kualitas proses di balik setiap pengambilan keputusan. Prinsip kehati-hatian menjadi pagar utama agar pertumbuhan yang dikejar tidak mengorbankan stabilitas jangka panjang.

Budaya Sadar Risiko Diperkuat di Seluruh Lini

Dikatakan Ateng, penerapan manajemen risiko tidak hanya dilakukan pada level kebijakan, tetapi juga melalui penguatan budaya organisasi agar setiap unit kerja memiliki kesadaran yang sama dalam mengelola potensi risiko.

"Dalam praktiknya, penguatan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari identifikasi potensi risiko hingga mekanisme pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan," terangnya.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa manajemen risiko bukan sekadar dokumen prosedural, melainkan bagian dari budaya kerja. Setiap unit diharapkan memahami potensi risiko di bidangnya masing-masing dan mampu melakukan mitigasi sejak dini.

Langkah ini dinilai krusial karena risiko dalam industri perbankan dapat muncul dari berbagai arah, baik internal maupun eksternal. Dengan budaya sadar risiko yang merata, perusahaan dapat bergerak lebih adaptif tanpa kehilangan kendali.

Respons terhadap Tantangan Industri Perbankan

Pendekatan ini, menurut Ateng, dinilai penting mengingat industri perbankan menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan kondisi ekonomi global, perkembangan teknologi keuangan, hingga dinamika regulasi yang terus berkembang.

Situasi global yang fluktuatif dapat memengaruhi likuiditas, kualitas aset, hingga tingkat kepercayaan pasar. Di sisi lain, kemajuan teknologi keuangan menuntut bank untuk berinovasi tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kepatuhan.

Regulasi yang terus diperbarui juga mengharuskan lembaga keuangan untuk sigap menyesuaikan kebijakan internal. Dalam konteks ini, sistem pengendalian internal yang kuat menjadi instrumen penting untuk memastikan seluruh aktivitas tetap sejalan dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan kombinasi tata kelola yang solid dan disiplin manajemen risiko, Bank Jakarta berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan stabilitas operasional. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat daya tahan perusahaan di tengah tekanan eksternal.

Apresiasi atas Konsistensi Penerapan Risiko

Atas konsistensi ini, Bank Jakarta berhasil meraih dua penghargaan di ajang yang berbeda pada waktu yang sama. Yakni, Indonesia Enterprise Risk Management Award 2026 dan Indonesia Best CFO Awards 2026.

Pada ajang Indonesia Enterprise Risk Management Award yang diselenggarakan Economic Review, Bank Jakarta meraih predikat The Best Indonesia Enterprises Risk Management Gold Award (B) Excellent (4 Star) untuk kategori Regional Development Company dengan aset lebih dari Rp90 triliun.

Sementara itu, pada ajang Indonesia Best CFO Awards 2026, Bank Jakarta menerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan dalam menjaga kinerja keuangan perusahaan.

Dua penghargaan tersebut menjadi cerminan bahwa strategi penguatan tata kelola dan manajemen risiko tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi juga diakui secara eksternal. Pengakuan ini mempertegas posisi Bank Jakarta sebagai institusi yang menempatkan prinsip kehati-hatian sebagai pilar utama pertumbuhan.

Ke depan, konsistensi dalam menerapkan tata kelola dan disiplin manajemen risiko akan menjadi kunci dalam menjaga reputasi dan kepercayaan publik. Di tengah kompetisi yang semakin ketat dan tantangan yang kian kompleks, fondasi yang kuat menjadi modal utama untuk tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index