JAKARTA - Bulan Ramadan dan Idulfitri adalah momen yang selalu dinantikan oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam hal berbelanja. Namun, tren belanja selama musim Ramadan kini menunjukkan pergeseran yang signifikan.
Tidak hanya soal barang yang dijual, tetapi cara konsumen berbelanja juga semakin canggih, dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi alat utama dalam mencari promo dan informasi produk.
Studi terbaru dari IBM yang bekerja sama dengan National Retail Federation (NRF) mengungkapkan bahwa AI kini memegang peranan penting dalam perjalanan belanja konsumen.
Mengapa AI Meningkatkan Peranannya dalam Belanja Ramadan
Transformasi digital yang terjadi dalam industri ritel semakin terlihat dalam momen Ramadan kali ini. Berdasarkan laporan IBM, 45 persen konsumen saat ini memanfaatkan AI untuk membantu mereka dalam perjalanan belanja. Ini adalah perubahan besar dari kebiasaan belanja yang lebih tradisional.
Sebagian besar konsumen kini mengandalkan AI untuk mencari informasi produk, membaca ulasan, bahkan untuk mencari penawaran terbaik sebelum mereka beranjak ke toko fisik.
Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar sebuah alat untuk efisiensi, melainkan telah menjadi bagian integral dari pengalaman belanja yang lebih cerdas dan personal.
AI mempermudah konsumen dalam mencari penawaran terbaik, menafsirkan ulasan produk, dan melakukan perbandingan harga. Dengan cara ini, mereka bisa menghemat waktu dan memastikan bahwa mereka membuat keputusan pembelian yang tepat. Proses ini juga memberikan rasa aman dan nyaman karena konsumen merasa lebih percaya diri dengan informasi yang didapatkan melalui teknologi ini.
Perubahan Pola Belanja Konsumen di Toko Fisik
Meskipun masih banyak konsumen yang berbelanja langsung di toko fisik, data menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola belanja mereka. Laporan IBM menyebutkan bahwa 72 persen responden tetap memilih untuk berbelanja di toko fisik, namun mereka tidak datang tanpa persiapan.
Kebanyakan konsumen sudah melakukan riset terlebih dahulu mengenai produk yang akan dibeli, seperti mengecek harga, membaca review, atau membandingkan produk secara online sebelum mereka memasuki toko. Toko fisik tetap ramai, tetapi keputusan pembelian banyak yang sudah dipengaruhi oleh hasil pencarian di ponsel mereka.
Dalam hal ini, banyak toko yang harus menyesuaikan strategi pemasaran mereka agar bisa mengintegrasikan pengalaman belanja fisik dan digital.
Oleh karena itu, penting bagi pelaku ritel untuk memastikan bahwa pengalaman belanja yang dilakukan di toko fisik dan digital berjalan secara mulus, mulai dari pencarian produk hingga proses pembayaran.
Ekspektasi Konsumen yang Semakin Digital dan Canggih
Masyarakat Indonesia, dengan populasi yang sebagian besar didominasi oleh konsumen muda yang akrab dengan teknologi, kini menginginkan pengalaman belanja yang lebih terintegrasi. Sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan kontribusi lebih dari 52 persen dari total volume bisnis online di ASEAN.
Data International Trade Administration menunjukkan bahwa pada 2023, nilai pasar e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar dan diprediksi akan terus melonjak pada tahun-tahun mendatang.
Dalam laporan IBM, satu dari tiga konsumen Indonesia kini menginginkan super app yang mengintegrasikan berbagai layanan, termasuk belanja. Mereka juga berharap adanya layanan rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI dan pengiriman otonom. Selain itu, mereka juga ingin agar proses belanja semakin mudah dengan memanfaatkan platform sosial yang semakin berkembang.
Langkah Ritel untuk Beradaptasi dengan Perubahan Tren Belanja
Dalam menghadapi perubahan ini, pelaku ritel harus segera beradaptasi. IBM merangkum sejumlah langkah penting yang perlu diambil oleh brand agar tetap relevan di era konsumen berbasis AI ini.
Pertama, ritel perlu mendesain ulang perjalanan pelanggan agar lebih sesuai dengan kebiasaan konsumen yang semakin digital. Ini termasuk memanfaatkan AI untuk membantu konsumen dalam mencari promo, menafsirkan ulasan produk, dan memberikan rekomendasi yang lebih personal.
Kedua, ritel harus memastikan kesiapan data yang memadai agar pengalaman belanja konsisten di berbagai kanal, baik online maupun offline. Sinkronisasi informasi produk dan kebijakan penting agar tidak ada ketidakjelasan yang mengganggu pengalaman konsumen.
Ketiga, pelaku ritel juga harus memastikan identitas brand tetap terjaga meskipun mereka mengintegrasikan teknologi canggih seperti AI dalam operasionalnya. AI seharusnya digunakan untuk meningkatkan relevansi dan personalisasi, namun tetap mempertahankan kreativitas dan keaslian yang menjadi ciri khas brand tersebut.
Menyongsong Babak Baru Ritel di Indonesia
Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi waktu yang penuh dengan diskon dan promo, namun sekarang hal itu berkembang menjadi sebuah babak baru dalam dunia ritel. Teknologi, terutama AI, kini menjadi kekuatan utama dalam membentuk ulang cara orang mencari, memilih, dan membeli produk.
Pelaku ritel yang berhasil mengintegrasikan AI dalam operasional mereka akan memiliki keunggulan jangka panjang, karena AI tidak hanya membantu efisiensi, tetapi juga membangun hubungan yang lebih personal dengan konsumen.
Dengan Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, teknologi ini menjadi vital untuk strategi bisnis. Tidak hanya soal bagaimana mempermudah proses belanja, tetapi juga bagaimana teknologi ini dapat menciptakan pengalaman belanja yang lebih relevan, personal, dan memuaskan.
Bagi pelaku ritel dan brand, momen Ramadan kali ini menjadi waktu yang tepat untuk menguji dan memperkuat strategi digital mereka, agar dapat memenangkan pasar yang semakin mengutamakan teknologi.
Di musim Ramadan ini, belanja bukan hanya soal promo dan diskon. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana teknologi, khususnya AI, membentuk ulang cara orang berbelanja, menjadikan pengalaman ini lebih efisien, cerdas, dan tentunya penuh manfaat.