JAKARTA - Di tengah laju digitalisasi perbankan yang kian masif, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA memilih jalur yang berbeda dibandingkan sebagian besar pelaku industri.
Saat banyak bank memangkas jaringan fisik, BCA justru melanjutkan ekspansi kantor cabang sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Langkah ini menunjukkan keyakinan perseroan bahwa kehadiran fisik tetap relevan untuk menopang kualitas layanan dan pertumbuhan bisnis.
Data Otoritas Jasa Keuangan mencatat jumlah kantor bank umum di Indonesia terus menyusut. Per Juni 2025, total kantor bank umum tercatat sebanyak 23.538 unit, turun 632 kantor dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun tren tersebut tidak sepenuhnya tercermin di BCA. Dalam empat tahun terakhir, jumlah kantor cabang BCA justru bertambah, dari 1.242 kantor pada 2021 menjadi 1.270 kantor pada 2025.
Perbedaan arah strategi ini mencerminkan pandangan BCA terhadap kebutuhan nasabah yang dinilai tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layanan digital, terutama untuk transaksi bernilai besar dan bersifat kompleks.
Peran Cabang Di Tengah Dominasi Digital
BCA menilai bahwa transformasi digital tidak serta-merta menghilangkan peran kantor cabang. SVP Operation Strategy & Development BCA Setiady menjelaskan bahwa meskipun transaksi perbankan saat ini didominasi oleh kanal digital, interaksi langsung antara bank dan nasabah masih memiliki nilai penting.
“Human touch masih diperlukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas,” kata Setiady.
Ia menjelaskan bahwa secara frekuensi, sekitar 99,8% transaksi BCA saat ini telah diproses melalui kanal digital. Dengan kata lain, transaksi yang dilakukan melalui kantor cabang hanya menyumbang sekitar 0,2% dari total frekuensi transaksi. Meski demikian, angka tersebut tidak mencerminkan peran cabang secara utuh.
Jika dilihat dari sisi nilai transaksi, kantor cabang justru masih memberikan kontribusi signifikan. Lebih dari 30% total nominal transaksi BCA masih dilakukan melalui kantor cabang. Hal ini menunjukkan bahwa cabang tetap menjadi pusat aktivitas untuk transaksi bernilai besar dan membutuhkan penanganan khusus.
Karakter Transaksi Bernilai Besar Dan Kompleks
Transaksi yang dilakukan di kantor cabang umumnya memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan transaksi digital. Aktivitas di cabang cenderung berkaitan dengan kebutuhan advisory, pengelolaan investasi, hingga pembiayaan kredit yang bersifat kompleks.
Dalam konteks tersebut, pertemuan langsung antara nasabah dan petugas bank dinilai masih sangat dibutuhkan. Nasabah memerlukan penjelasan yang lebih komprehensif dan personal agar dapat memahami risiko, manfaat, serta struktur produk keuangan yang ditawarkan.
Pendekatan tatap muka juga memungkinkan bank memberikan solusi yang lebih tepat sesuai dengan profil dan kebutuhan nasabah. Inilah alasan mengapa BCA tetap mempertahankan dan bahkan menambah jumlah kantor cabangnya, meskipun teknologi digital terus berkembang pesat.
Keberadaan cabang juga berfungsi sebagai titik penguatan hubungan jangka panjang antara bank dan nasabah. Dengan kepercayaan yang terbangun melalui interaksi langsung, BCA menilai loyalitas nasabah dapat terjaga dengan lebih baik.
Ekspansi Ke Kawasan Indonesia Timur
Selain faktor layanan, ekspansi jaringan kantor cabang BCA juga didorong oleh perkembangan ekonomi regional. Setiady menyebutkan bahwa kawasan Indonesia Timur menjadi salah satu fokus pengembangan jaringan BCA ke depan.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah wilayah di kawasan tersebut yang belum terjangkau jaringan BCA secara optimal. Oleh karena itu, pembukaan kantor cabang baru dipandang sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus menangkap potensi pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui ekspansi ini, BCA berharap dapat memperluas basis nasabah yang saat ini telah mendekati 40 juta nasabah. Kehadiran fisik di daerah dinilai mampu meningkatkan inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat yang masih membutuhkan layanan perbankan konvensional secara langsung.
Ekspansi cabang di Indonesia Timur juga sejalan dengan upaya pemerataan layanan perbankan nasional. Dengan jaringan yang lebih luas, BCA dapat mendukung aktivitas ekonomi lokal, mulai dari sektor usaha kecil hingga korporasi.
Penguatan Infrastruktur Layanan Tunai
Perluasan jaringan kantor cabang BCA turut dibarengi dengan penguatan infrastruktur layanan tunai. Hingga saat ini, BCA mengoperasikan lebih dari 20.000 mesin ATM yang tersebar di seluruh Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 18.034 unit ATM pada 2021. Penambahan mesin ATM ini menjadi bagian dari strategi BCA untuk memastikan kemudahan akses layanan perbankan, terutama di wilayah yang masih membutuhkan transaksi tunai.
Kombinasi antara layanan digital, jaringan kantor cabang, dan infrastruktur ATM mencerminkan pendekatan hybrid yang diterapkan BCA. Perseroan berupaya menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kebutuhan interaksi langsung yang masih relevan bagi sebagian nasabah.
Dengan strategi ini, BCA optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Kehadiran cabang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai pusat layanan dan hubungan jangka panjang dengan nasabah di berbagai wilayah Indonesia.