FINANSIALTODAY.COM — Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah ditopang oleh respons positif pasar terhadap penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031 oleh Komisi XI DPR RI. Destry sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Dari sisi eksternal, pelaku pasar masih mencermati ketegangan diplomatik antara AS dan Iran. Upaya mempertemukan kembali kedua negara disebut menghadapi hambatan karena pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai tidak berminat menghidupkan kembali nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu.
Pidato Kevin Warsh dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Perhatian investor pekan ini juga tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di Jackson Hole. Pidato tersebut menjadi penanda penting bagi arah kebijakan suku bunga AS, terutama setelah data inflasi menunjukkan tekanan yang masih tinggi.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi utama The Fed, tercatat tumbuh 3,7% secara tahunan hingga Juli. Angka ini meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS masih membuka peluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Ketegangan Rusia-Inggris dan Data Inflasi RI
Ketegangan geopolitik juga meningkat di kawasan lain setelah Rusia memperingatkan kemungkinan serangan terhadap target militer Inggris. Peringatan itu merupakan respons atas penggunaan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris oleh Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia.
Di dalam negeri, investor masih cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi Indonesia pekan depan. Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi BI dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.
Penguatan rupiah sepanjang pekan ini menunjukkan daya tahan mata uang Garuda di tengah tekanan global yang belum mereda. Namun, pergerakan ke depan tetap bergantung pada keputusan The Fed dan perkembangan geopolitik yang masih dinamis.