JAKARTA - Potensi Indonesia dalam peta industri mineral strategis global kembali menjadi sorotan. Salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek besar adalah logam tanah jarang, mineral penting yang menjadi bahan baku berbagai teknologi maju.
Dengan sumber daya melimpah dan peluang hilirisasi yang terus dikembangkan, Indonesia diproyeksikan mampu mengambil peran signifikan di pasar global dalam beberapa tahun ke depan.
Badan Industri Mineral meyakini bahwa pada 2030 Indonesia dapat menguasai sekitar 5% pangsa pasar logam tanah jarang dunia dengan nilai mencapai US$7,42 miliar atau setara Rp124,7 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp16.805 per dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat diraih apabila pengembangan dan pengolahan mineral ini dilakukan secara optimal dan terintegrasi.
Proyeksi Nilai Pasar Dan Hilirisasi Logam Tanah Jarang
Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa keseluruhan nilai pasar global dari pengembangan dan hilirisasi logam tanah jarang pada 2030 diperkirakan mencapai US$95 miliar.
Dalam skema tersebut, Indonesia diproyeksikan mampu mengembangkan hilirisasi logam tanah jarang hingga memiliki nilai sekitar US$4 miliar.
Selain itu, Indonesia juga berpotensi memperoleh tambahan nilai dari kandungan logam tanah jarang yang terdapat dalam berbagai mineral ikutan dengan estimasi mencapai US$3,42 miliar. Kombinasi kedua sumber nilai tersebut membuat total potensi ekonomi yang terbuka bagi Indonesia menjadi sangat signifikan.
Khusus untuk pengembangan produk turunan berupa total rare earth oxide, Indonesia diprediksi dapat mendulang nilai sekitar US$340 juta. Nilai ini berpotensi meningkat menjadi US$640 juta apabila produk tersebut diolah lebih lanjut menjadi separated oxide. Menurut Brian, tahapan pengolahan lanjutan inilah yang akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
“Hingga akhirnya Indonesia berpotensi menguasai sekitar 5% pasr LTJ senilai US$4 miliar pada tahap hilirisasi lanjutan,” kata Brian.
Ia menambahkan bahwa analisis yang dilakukan menunjukkan Indonesia memiliki ruang untuk mengambil peran sekitar 1% hingga 5% dari industri logam tanah jarang dunia.
Peran Indonesia Dalam Peta Pasar Global
Dalam pandangan Brian, pasar global untuk produk logam tanah jarang menunjukkan tren peningkatan yang tajam seiring berkembangnya industri teknologi tinggi.
Nilai total rare earth oxide secara global diperkirakan mencapai US$8,5 miliar. Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar US$21,3 miliar ketika diolah menjadi separated oxide, dan melonjak hingga US$95 miliar pada tahap hilirisasi lanjutan.
Ia menjelaskan bahwa logam tanah jarang umumnya berikatan dengan mineral-mineral lain. Kondisi ini membuka peluang tambahan karena mineral asosiasi tersebut juga dapat dimanfaatkan melalui proses downstreaming yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Potensi inilah yang dinilai dapat dimaksimalkan oleh Indonesia.
“Rare earth ini biasanya berikatan juga dengan mineral-mineral lainnya, yang kemudian mineral lainnya itu pun seharusnya bisa dimanfaatkan juga untuk dilakukan downstreaming yang itu memiliki nilai ekonomis tinggi. Itu yang kami lihat totalnya mencapai US$7,42 miliar potensi yang terbuka untuk Indonesia yang seharusnya bisa kita manfaatkan,” ujar Brian.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok global logam tanah jarang dan produk turunannya.
Sumber Logam Tanah Jarang Di Indonesia
Brian memaparkan bahwa sumber logam tanah jarang di Indonesia berasal dari tiga kategori utama, yaitu sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier. Untuk sumber primer, logam tanah jarang berasal langsung dari endapan mineral utama seperti laterit dan ion adsorption clay.
Sumber sekunder berasal dari produk ikutan dan mineral asosiasi, termasuk residu dan tailing dari komoditas seperti timah dan bauksit. Selain itu, abu sisa pembakaran batu bara atau fly ash bottom ash dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara juga diketahui memiliki kandungan logam tanah jarang.
Sementara itu, sumber tersier berasal dari proses daur ulang produk akhir berbasis teknologi tinggi, seperti gawai pintar dan komputer jinjing. Menurut Brian, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki potensi signifikan dari sumber tersier ini.
“Jumlahnya di Indonesia sangat besar karena penduduk kita sangat besar. Itu juga menjanjikan proses ekonomi yang sekarang sudah dilakukan oleh negara-negara lain untuk mengamankan pasokan logam tanah jarangnya,” ungkapnya.
Mineral Strategis Lain Dan Karakteristik Logam Tanah Jarang
Selain logam tanah jarang, Brian menegaskan bahwa Indonesia juga berencana mengembangkan mineral strategis lain yang memiliki peran penting bagi industri pertahanan. Mineral tersebut meliputi antimon, tungsten, dan tantalum.
“Kami juga mendapatkan permintaan dan arahan dari Bapak Presiden untuk kemudian melakukan pengembangan juga di beberapa mineral lain yang memiliki dampak atau sangat penting perannya untuk industri pertahanan, yaitu; antimon, tungsten, dan tantalum,” kata Brian.
Mengacu pada situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, logam tanah jarang atau rare earth elements merupakan kelompok unsur logam yang mencakup lima belas unsur deret lantanida, ditambah scandium dan yttrium.
Unsur-unsur ini biasanya dijumpai pada berbagai jenis deposit, mulai dari batuan beku peralkalin hingga endapan sekunder seperti aluvial laterit.
Kementerian ESDM juga menjelaskan bahwa endapan logam tanah jarang terdiri atas endapan primer yang berkaitan dengan proses magmatik dan hidrotermal, serta endapan sekunder yang terbentuk melalui pelapukan dan sedimentasi. Logam tanah jarang juga dapat terkumpul pada sisa endapan mineral di permukaan bumi, seperti nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.